5 Why dalam Analisa Masalah

Banyak yang mengatakan bahwa analisa akar masalah itu adalah suatu aktivitas yang rumit dan kompleks, well, ada benarnya, tetapi ada juga cara untuk melakukannya dengan cara yang sangat sangat mudah.

Yang ingin kami kenalkan adalah 5-Why. Yep, terjemahan bebasnya “5-Kenapa”.Jika Anda melihat ada masalah oli tercecer di lantai, apa yg Anda lakukan? Tentu saja, yang pertama kali Anda lakukan adalah meminta orang lain untuk membersihkannya.

Langkah berikutnya, tanyalah KENAPA oli bisa tercecer di lantai? Jawabannya adalah karena oli ini merembes dari tangki oli yang bocor. Tindakan kita adalah perbaiki tangki oli tsb.

Cukup? Cobalah tanya lagi KENAPA tangki oli bocor. Jawabannya adalah karena tangki ini tidak ada pemeriksaan berkala untuk kebocoran. Tindakan kita adalah masukkan poin pemeriksaan kebocoran tangki di jadwal pemeliharaan kita.

Cukup? Coba tanyakan lagi KENAPA tidak ada pemeriksaan berkala untuk kebocoran? Ternyata jawabannya adalah tidak ada aktivitas identifikasi mengenai apa saja check-point (poin pemeriksaan) dari tiap peralatan. Tindakan kita adalah memperkenalkan aktivitas identifikasi check point untuk tiap peralatan.

Apa yang kita lakukan untuk mendapatkan akar masalah dan peluang perbaikan sebanyak diatas? Well, hanya bertanya, simply by asking.

Cara menjalankannya, kumpulkan orang-orang yang relevan dan punya semangat perbaikan. Anda tentu saja tidak memerlukan seorang skeptis dan pesimis yang meragukan setiap action-plan kita. Kedua, lakukan dalam waktu yang singkat. Jika Anda membutuhkan sampai 2 jam untuk menjawab, mungkin Anda memerlukan perangkat (tools) yang lebih kuat. Misalnya diagram tulang ikan.

Selamat mencoba dan bertanya!

About these ads

12 comments

  1. dito

    bagaimana jika masalah yang sama itu berulang terjadi?

    saya bingung harus membuat corective action yang bagaimana lagi, karena pada akorektif action pertamasudah ditemukan akar masalahnya, tapi masih terulang lagi…

    tolong pencerahannya by email : dito.priambodo@berlina .co.id

  2. roto

    jika anda di dalam sebuah komonitas sedangkan anda baru masuk ke dalam komonitas itu.bagaimana jika anda sudah di perintah mencari deviasi yang ada, sementara anda belum mengenal komonitas itu.maka langkah-langkah yang anda ambil untuk menemukan deviasi yang ada di dalam komonitas itu bagaimana???

    terimakasih……

  3. Agha

    tp semua masalh itu hrs bgmn kita mengurutkannya
    kan masalah di produksi kan kebanyakan dari ooperator. klo kita mencari masalahnya selain org gmn????

  4. sulistyo

    saya agak kesulitan dalam menentukan teori masalah, pertama tidak biasa menulis atau membuat penelitian ,walaupun orang lain mudah mengatakan itu mudah. berikan model yang paling sedrehana.

  5. Wasis Katijoso

    Sebagai tambahan wawasan dalam menganalisa menggunakan metode 5 why ( Naze-naze dalam bahasa Jepang) dalam proses produksi ( contoh defect lolos dari produksi hingga ditemukan oleh bagian QC/QA ).
    Yang pertama adalah pertanyaan ” Mengapa terjadi masalah ? ” dan yang kedua ” Mengapa lolos ? ” .
    Mengapa yang pertama adalah untuk mengusut sumber terjadinya masalah dan mengapa yang ke dua adalah untuk mengusut sistem inspeksi di produksi yang kurang bagus.
    Pertanyaan mengapa yang pertama harus ditelusur ( why ..? why.. ? why.. ? why.. ? why ..? mungkin bisa 6 atau 7 why? ) untuk bisa menentukan penyebabnya apakah ini masalah material, metode kerja, manusia, machine, design, atau lingkungan kerja .
    Setelah itu bisa ditentukan perbaikan yang tepat untuk mencegah masalah terjadi lagi.
    Sedangkan mengapa yang kedua harus ditelusur dengan cara yang sama seperti dia atas untuk bisa menentukan penyebabnya kenapa bisa lolos.
    Setelah itu bisa ditentukan metode inspeksi yang tepat agar tidak sampai lolos lagi ke QC/QA atau market.
    Demikian sedikit pengalaman dari saya. Terima kasih

  6. fitri ayu kusumaningrum

    Terimakasih atas masukannya, sangat memberi inspirasi dalam mengusut akar masalah itu sendiri. Hanya sedikit menambahkan saja, ketika pertanyaan itu tidak berhasil terjawab oleh orang lain ataupun diri kita sendiri, langkah observasi bisa menjadi data tambahan dalam mengurai asal muasal penyebab dari akar masalah itu. Observasi ini bisa dalam berupa pengamatan secara fisik maupun non-fisik. Ketika narasumber tidak bersedia untuk menjawab, langkah observasi inilah yang bergerak dan harus mendapat feedback lansung dari yang bersangkutan ataupun dari significant person. Terimakasih..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s