ISO 9001:2000 di Kontraktor

Pak Sigit (salah satu pembaca weblog ini) memberikan kami list SOP pada beberapa artikel sebelumnya. Jika kita pelajari, organisasi Pak Sigit adalah contractor. Dan lebih spesifik lagi lebih ke construction. Organisasi X tempat Pak Sigit bekerja ini adalah sebuah perusahaan yang memberikan jasa konstruksi menyeluruh, biasanya organisasi X ini bekerja untuk main-contractor (sekaligus pelanggan “paling dekat”nya). Biasanya, main contractor ini memiliki end-customer, pengguna proyek (yang juga merupakan pelanggan tidak langsung dari organisasi X).

Melihat proses yang didokumentasikan, sebenarnya sudah cukup lengkap. Biasanya organisasi X ini memang sedikit berbeda karakteristik (dan budayanya) dengan organisasi lain.

Cara kerjanya adalah mereka mengikuti tender, titik kritis-nya adalah persiapan dokumen tender yang membutuhkan ketelitian dan keahlian sipil tertentu sesuai bidang jasa konstruksinya. Kemudian, jika menang tender, mereka akan melanjutkannya ke pembelian (procurement), kemudian suplai material ke site (area kerja). Titik kritisnya adalah suplai material sesuai spesifikasi kualitas dan ketepatan waktu pengiriman.

List:

RG/QP/PJT/01 PROJECT DEVELOPMENT
RG/QP/PJT/02 PROJECT QUALITY CONTROL
RG/QP/PJT/03 MATERIAL RECEIVING
RG/QP/PJT/04 MATERIAL STORAGE
RG/QP/PJT/05 MATERIAL DISTRIBUTION
RG/QP/PJT/06 QUALITY RECORD
RG/QP/PJT/07 PROJECT AND TECHNICAL DOCUMENT CONTROL
RG/QP/PJT/08 NON CONFORMING PRODUCT CONTROL
RG/QP/PJT/09 MATERIAL ORDER
RG/QP/PJT/10 TOOL & EQUIPMENT CONTROL

Selanjutnya, mereka akan bekerja sesuai Rencana Proyek (Project Plan). Titik kritisnya adalah kemampuan antisipasi cuaca dan faktor eksternal lain, kemudian kesesuaian aktual dengan rencana (misalnya kurva S).

Setelah itu ada semacam User Agreement Test (UAT, Commissioning). Titik kritisnya tentu adalah kesesuaian kualitas aktual dengan kebutuhan pelanggan.

Jika melihat urutan proses terdokumentasi (SOP) yang diberikan Pak Sigit, sepertinya hampir seluruhnya sudah tercakup. Komentar dari Pak Sigit adalah “kurang menggigit”, nah, berdasarkan pengalaman kami sebelumnya, hal ini dikarenakan 3 hal:

  1. Ketajaman dari SOP itu sendiri, banyak organisasi memilih membuat dokumentasi proses kerja yang cenderung ‘fleksibel’ dan ‘luas’, untuk memberikan keleluasaan (yang umumnya berlebihan), misalnya kita menyebut “Staf Proyek Order Kebutuhan”, kita tidak menyebut “Staf Proyek Seksi Gudang order kebutuhan lewat Form Permintaan Barang, setiap hari Jumat”.
  2. Konsistensi Implementasi, memang karakteristik bidang konstruksi adalah ‘you dont have the same day twice’, tetapi kita tetap harus membiasakan untuk konsisten dengan prosedur yang menurut kita efektif. Kompromi berlebihan akan membuat kita berjalan tanpa sistem.
  3. Konsep ‘semua demi tender’, nah ini satu masalah abadi di bidang konstruksi, saking abadinya hal ini malah sudah dianggap ‘biasa’.πŸ™‚ Banyak kami temui alur yang di’tabrak’ sedemikian rupa karena persiapan tender (yang umumnya baru kelar H-5, jika 5 tsb adalah 5 hari tentu tidak masalah, yang jadi masalah adalah angka 5 tsb adalah 5 jam!).

Bagaimana cara mengatasinya?
Well, ini memang masalah budaya kerja dan karakteristik industrinya. Yang perlu kita lakukan adalah biasakan seluruh karyawan mengikuti prosedur, perketat prosedur kita, kurangi sedikit fleksibilitas (bukan tidak boleh fleksibel, tetapi ada batasnya). Semua ini tidak bisa diubah dalam 1 bulan, komunikasikan secara rutin, jelaskan manfaatnya bagi karyawan jika mengikuti sistem yang ada.

Better start now, than never. Develop GREAT System!

18 comments

  1. ale superman

    kayaknya bagus nih iso-nya, boleh minta ga pak???
    soalnya saya lagi diminta sama atasan untuk pembuatan SOP perusahaan kami.

    Terima Kasih sebelumnya.

  2. Adhi Perdana

    Saya sedang memperoleh tugas untuk membuat SOP atomotif / motor. tolong kalau ada yang bisa memberi referensinya. Terima kasih atas bantuannya.

  3. dzi

    saya mahasiswa sedang mencari tugas,
    klo bleh tau standart ISO yang tentang jasa konstruksi itu bagaimana saja…
    please reply

  4. Felixia. N.F

    Saya juga kesulitan untuk mencari tahu bagaimana SOP yang layak utk jasa building construction. Kebetulan saya cari2 juga susah betul, apakah ada yg bs bantu dimana saya bs download seperti yang disebutkan pak sigit? Juga Form2 ada di perusahaan konstruksi…, saya baru di dunia konstruksi jd msh bingung2…adakah yg bs tolong saya? terimakasih sebelumnya ya..
    alamat email saya : fnukif@yahoo.com

  5. cantique

    hello
    pak boleh minta salah satu contoh quality plan untuk pekerjaan apa aja deh (kalo bisa cor strouss) standar keberterimaannya pake standar apa?
    trims

  6. Galihuji

    Terkadang Site Project lebih mementingkan kebiasaan (biasanya spt ini …biasanya spt itu) dibandingkan dgn mengikuti apa yg dituliskan di prosedur, shg pada saat audit semua dokumentasi terabaikan, mereka menganggap dgn menulis ini ataupun itu membuat waktu terbuang sia2 (katanya…) shg lagi2 yg dipersalahkan adalah MR, malah terkadang mereka membuat dokumen sendiri tanpa memperdulikan bagaimana cara pengendaliannya, mohon saran pak, bagaimana cara mengatasi hal tersebut?

  7. Titik Hikmat

    ass.wrwb
    kalau bisa contoh 2 form untuk perusahaan di bidang kontraktor dong.
    Tq
    wass.wrwb
    PT. Prima Mitra Adhi Sembada
    Titik Hikmat

  8. QMS Guy

    Wah, saya sangat setuju, Pak Ucok. Good comment! Saya suka dengan “…Namun untuk mempertanggungjawabkan apa yg diisi/dinyatakan dalam form2 wi tersebut yang menjadi masalah besar…”.

    Ini masalah pelik, Pak Ucok. Kebanyakan organisasi terlalu sibuk dengan (lagi2 meminjam kalimat Bapak) “…sekedar fokus pada prosedur pak, melainkan pada aspek yg lebih substantif…”.

    Sepertinya Pak Ucok sudah berpengalaman dalam bidang ini. Pak Ucok, jika ada komentar tambahan, feel free to write.πŸ™‚ Masukan dari Pak Ucok sangat berharga. Let’s learn by sharing!

  9. ucok

    Di dunia konstruksi, kuncinya tidak pada memperketat prosedur tampaknyapak. Melainkan pada bagaimana kita membangun quality awareness para pelaksana beserta tim supervisinya. Pada tahap incoming inspection, inprocess, dan final, selalu ada checksheet untuk memastikan bahwa persyaratan (spek-tek) terpenuhi. Masalahnya ada pada ‘kebenaran’ data dalam checksheet. Pasir diijinkan masuk site padahal kualitasnya tidak sesuai spek yg dipersyaratkan misalnya. Disinilah permasalahan kualitas yg benar2 menjadi masalah pada industri jasa konstruksi, specially kontraktor dan konsultan supervisi. Sebaiknya jangan sekedar fokus pada prosedur pak, melainkan pada aspek yg lebih substantif. Bagi kontraktor, membuat work instruction apapun tidak ada yg sulit. Namun untuk mempertanggungjawabkan apa yg diisi/dinyatakan dalam form2 wi tersebut yang menjadi masalah besar. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s